Beasiswa bagi Peraih Medali Olimpiade Sains

Beasiswa bagi Peraih Medali Olimpiade Sains

Kemdikbud Jamin Beasiswa untuk Peraih Medali Olimpiade Sains
Jakarta - Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Ahmad Jazidie mengatakan, semua peraih medali olimpiade sains berhak mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Hal itu dijamin Kemdikbud lewat Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 62/2009 tentang pemberian beasiswa kepada peserta didik jenjang pendidikan menengah dan tinggi peraih medali Olimpiade Sains Internasional.
"Syaratnya tidak boleh dobel. Sepanjang dia belum dapat beasiswa dari pihak lain, pasti bisa dapat dari pemerintah," kata Jazidie di Jakarta, Jumat (25/7).

Jazidie merespons pernyataan dari peraih Olimpiade Fisika Internasional atau International Physics Olympiad (IPhO) tahun 2014, Josephine Monica, yang gagal mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Menurut Jazidie, siswa peraih medali emas olimpiade sains internasional secara otomatis mendapatkan beasiswa baik untuk melanjutkan pendidikan di dalam atau luar negeri.
"Skema beasiswa bisa diambil dari mana saja, tapi prioritasnya Kemdikbud. Hanya tidak boleh dobel. Ketika siswa tidak dapat beasiswa dari mana pun, kementerian yang berdiri paling depan," ujar Jazidie.
Jazidie juga membantah prestasi Indonesia dalam IPhO mengalami penurunan. Menurutnya, naik turunnya prestasi Indonesia dalam ajang olimpiade adalah dinamika yang lumrah. Dia mengatakan, penurunan prestasi Indonesia bukan karena putusnya kerjasama pemerintah dengan Surya Institute.

Pada IPhO tahun 2010, Indonesia berhasil meraih empat emas dan satu perak. Saat itu, pemerintah masih bekerjasama intens dengan Surya Institute, di bawah pimpinan Yohanes Surya. Selanjutnya prestasi itu jeblok pada IPhO tahun 2013 dengan perolehan empat perunggu. Namun pada IPhO tahun 2014, lewat Josephine, Indonesia kembali meraih satu medali emas, dua perunggu, dan dua "Honorable Mention".
"Tidak ada hubungannya dengan individu (Yohanes Surya). Kita terima kasih kepada semua orang yang berkontribusi. Kerja sama pemerintah juga terbuka dengan siapa saja, kecuali yang bersangkutan tidak mau bekerjasama lagi," kata Jazidie.

Sementara itu, Ketua Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) dari Surya Institute, Hendra Kwee mengatakan, pihaknya juga terbuka untuk bekerja sama dengan pemerintah. Menurutnya, sejak 2011, Kemdikbud memutuskan kerjasama dengan TOFI sehingga saat ini TOFI hanya membina siswa untuk mengikuti Olimpiade Fisika tingkat Asia atau Asian Physics Olympiad (APhO), sedangkan kewenangan IPhO dipegang Kemdikbud.
"Terakhir kami terlibat, Indonesia mendapatkan empat emas dan satu perak. Sejak itu ada sejumlah hal tidak sejalan dengan Kementerian, misalnya tempat pelatihan berpindah-pindah. Lalu tahun 2011, kami mendadak tidak diajak kerjasama lagi," ujar Hendra.

Hendra mengatakan keikutsertaan Indonesia dalam IPhO dan sejumlah olimpiade sains internasional dirintis oleh Yohanes Surya sejak tahun 1993. Awalnya Yohanes mengupayakan sendiri dana untuk keikutsertaan siswa Indonesia. Keterlibatan pemerintah dari sisi dana secara signifikan baru sejak tahun 1999.
Menurutnya, pembinaan pemerintah kepada siswa peserta olimpiade sains terlalu birokratis. Pemerintah membatasi siswa yang mengikuti olimpiade harus berasal dari jenjang SMA, tidak terbuka peluang untuk siswa SMP atau siswa dari homeschooling.
"Padahal dalam aturan olimpiade internasional, syaratnya hanya peserta tidak boleh sudah kuliah. Kami pernah membawa anak SMP ikut IPhO dan dia berhasil dapat perak," ujar Hendra.
Dia menambahkan pembimbing olimpiade dari pemerintah umumnya dosen-dosen perguruan tinggi negeri (PTN), sehingga sifatnya hanya paruh waktu. "Pelatihan bisa terbengkalai dan seringkali anak belajar sendiri," katanya.

Storedu.co.id